Kamis, 13 April 2017

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Dalam   proses   komunikasi,   media   merupakan   apa   saja   yang mengantarkan atau membawa informasi ke penerima informasi. Di dalam proses belajar mengajar yang pada hakikatnya juga merupakan proses komunikasi, informasi atau pesan yang dikomunikasikan adalah isi atau bahan ajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum, sumber informasi adalah guru, penulis buku atau tadul, perancang dan pembuat media pembelajaran lainnya; sedangkan penerimaan informasi adalah siswa atau warga belajar. Pengertian media pembelajaran bervariasi. Secara etimologis kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar .Dalam konteks belajar dan pembelajaran, media dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan atau materi pembelajaran dari guru atau pendidik sebagai komunikator kepada siswa atau peserta didik sebagai komunikan[1]. Media pembelajaran sebagai teknologi pembawa informasi yang dapat dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar; sebagai sarana fisik untuk menyampaikan bahan ajar.
Media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Menurut Djamarah dan Aswan Zain adalah media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur  pesan guna mencapai tujuan pembelajaran.[2] Selanjutnya Purnamawati dan Eldarni menyatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapatdigunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapatmerangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehinggaterjadi proses belajar.[3]
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dikemukakan para ahli di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pengertian media pembelajaran ialah komponen, alat bantu, saluran, atau segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang berupa materi pembelajaran dari pendidik (guru) sebagai komunikator kepada peserta didik (siswa) sebagai komunikandalam proses belajar dan pembelajaran serta dapat merangsang pikiran, perasaan,minat, dan perhatian peserta didik sehingga terjadi proses belajar.

B.     Macam-Macam Media Pembelajaran
Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
Karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu diperhatikan oleh guru agar mereka dapat memilih media mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Sebagai contoh media kaset audio merupakan media auditif yang mengajarkan topik¬-topik pembelajaran yang bersifat verbal seperti pengucapan (pronunciation) bahasa asing. Untuk pengajaran bahasa asing media ini tergolong tepat karena bila secara langsung diberikan tanpa media sering terjadi ketidaktepatan yang akurat dalam pengucapan pengulangan dan sebagainya. Pembuatan media kaset audio ini termasuk mudah, hanya membutuhkan alat perekam dan narasumber yang dapat berbahasa asing, sementara itu pemanfaatannya menggunakan alat yang sama pula.
Guru sebagai informator harus memiliki sejumlah bidang keilmuan yang sesuai dengan kewenangannya karena ini merupakan modal dasar guru agar pembelajaran dapat terlaksana dan tercapai dengan baik. Sikap profesionalisme guru dalam tahap persiapan ini dibutuhkan baik dalam merancang program pembelajaran maupun dalam bidang penguasaan ilmu yang digelutinya. Dalam tahap persiapan seorang guru harus memperhatikan pula bagaimana penyunan perancangan rencana kegiatan belajar-mengajar, baik itu yang berkaitan dengan tujuan, metode, media, sumber, evaluasi, dan kegiatan siswa itu sendiri.[4]
Jadi dapat disimpulkan media pembelajaran adalah sarana untuk menyalurkan pesan atau informasi dari guru kesiswa atau sebaliknya. Penggunaan media pembelajaran akan memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa dan atau dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Kita ambil contoh;
a)      Seorang guru ingin menjelaskan tentang daur hidup kupu-kupu mulai dari larva/ulat. Agar lebih konkret, guru dapat membuat atau memperlihatkan gambar atau foto atau cd tentang proses terbentuknya kupu-kupu, tanpa guru menjelaskna panjang lebar, siswa akan lebih mengerti daur hidup seekor kupu-kupu dari media yang diperlihatkan oleh guru
b)      Jika kita ingin agar siswa dapat menunjukkan letak Indonesia dibenua asia maka sebaiknya kita menggunakan peta atau bola dunia, dengan demikian siswa kita akan mengerti dan dapat menunjukkan letak Indonesia di peta tersebut
Memperhatikan begitu banyak media yang dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran, beberapa ahli mencoba mengidentifikasi dan membuat klasifikasi media. Sebagai contoh Schramm menglasifikasikan media menjadi dua jenis, yaitu media sederhana (papan tulis, gambar, poster, peta) dan media canggih (radio, film, televise, computer). Lain lagi dengan Bretz yang mengklasifikasikan  media berdasarkan tiga unsur, yaitu suara, bentuk, gerak. Bretz diantaranya menggolongkan media kedalam media cetak, media audio, media visual gerak, media visual diam, media audiovisual gerak, media audiovisual diam. Selain itu Tosti dan Ball juga menyusun pengelompokkan media menjadi enam kelompok media penyaji, yaitu (1) grafis, bahan cetak, dan gambar diam (2) media proyeksi diam (3) media audio (4) media gambar hidup/film (5) media televise (6) multimedia
Dari berbagai pengelompokan media pembelajaran tersebut, secara sederhana media pembelajaran dapat dipiloah menjadi tiga bagian saja, yaitu sebagai berikut
1.   Media visual
Media  visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan oleh guru untuk membantu menyampaikan isi atau meri pelajaran. Media visual ini terdiri atas media yang tidak dapat diproyesikan (non-projected visual) dan media yang  dapat diproyesikan (project visual). Media yangd dapat diproyesikan ini dapat berupa gambar diam (still pictures) atau bergerak (motion pictures). Contoh dari media visual adalah tablel, poster, foto, dan slide.
2.   Media Audio
Pengertian media audio untuk pembelajaran, dimaksudkan sebagai bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga tedadi proses belajar mengajar. Manfaat media audio terutama dirasakan benar dalam melatih berbahasa asing, music literary, belajar jarak jauh, dan paket belajar atau modul untuk tujuan belajar mandiri. Masih ada lagi dua media audio yang disalurkan melalui telekomunikasi yang sedikit banyak digunakan dalam pendidikan, yaitu radio dan telepon. Radio mempunyai sejarah yang panjang dalam siaran pendidikan, sedangkan telepon baru saja dipergunakan melalui kuliah jarak jauh (telelecture) atau teknik jaringan penerimaan yang diperluas (amplified receiver technique). Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari jenis media ini, antara lain dalam hal melatih daya ingat dan mengungkapkan kembali gagasan cerita yang telah disimak, melatih diri dalam memisahkan informasi yang relevan dari yang tak relevan serta dapat pula melatih daya analisis.
3.   Media Audiovisual
Sesuai dengan namanya, media ini merupakan kombinasi audio dan visual atau bisa disebut media pandang-dengar. Sudah barang tentu apabila kita menggunakan media ini akan semakin lengkap dan optimallah penyajian bahan ajar kepada para siswa. Selin itu, media ini dalam batas-batas tertentu dapat juga menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini,  guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi (narasumber) karena penyajian materi dapat digantikan oleh media. Oleh sebab itu, peran guru beralih menjadi fasilitator belajar. Contoh dari media audiovisual diantaranya program video/televise pendidikan, video/televise instruksional, dan program slide suara (soundslide), dan pembelajaran dengan computer.
C.    Prinsip-prinsip Media Pembelajaran
Siswa memiliki daya tangkap yang berbeda dalam menerima materi yang  akan diberikan seorang pendidik. Seorang pendidik harus mengerti tentang penggunaan media pembelajaran. Dan tidak asal membuat media pembelajaran, harus mengerti prinsip-prinsip dalam memilih media pembelajaran. Seperti yang dikatakan oleh Punaji Setyosari dalam naskah yang digunakan PLPG, dia menyebutkan bahwa dalam memilih media pembelajaran seorang pendidik harus memperhatikan beberapa prinsip. Yaitu ;
·         Tak ada satupun media, prosedur dan pengalaman belajar yang paling baik untuk belajar;
·         Percayalah bahwa penggunaan media itu sesuai dengan tujuan khusus Pembelajaran;
·          Anda harus mengetahui secara menyeluruh kesesuaian antara isi dan tujuan khusus program;
·         Media harus mempertimbangkan kesesuaian antara penggunaannya dengan cara pembelajaran yang dipilih;
·         Pemilihan media itu sendiri jangan tergantung pada pemilihan dan penggunaan media tertentu saja;
·         Sadarlah bahwa media yang paling baik pun apabila tidak dimanfaatkan secara baik akan berdampak kurang baik atau media tersebut digunakan dalam lingkungan yang kurang baik;
·         Kita menyadari bahwa pengalaman, kesukaan, minat dan kemampauan individu serta gaya belajar mungkin berpengaruh terhadap hasil penggunaan media;

    Kita menyadari bahwa sumber-sumber dan pengalaman belajar bukanlah hal-hal yang berkaitan dengan baik atau buruk tetapi sumber-sumber dan pengalam belajar ini berkaitan dengan hal yang konkrit atau abstrak. Dalam memilih media pembelajaran juga harus melihat prinsip-prinsip pembelajaran dahulu. Setelah itu seorang pendidik akan mengetahui sejauh mana dia akan membuat media pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam bukunya Arifin Prinsip-prinsip Pembelajaran Fajar melingsir kutipan dalam website tentang beberapa prinsip-prinsip umum dalam pembelajaran sebagai berikut:
ü  Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen;
ü  Peserta didik memiliki potensi, gandrung dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan;
ü      Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami liner sejalan proses kehidupan.

Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran tidak hanya sekedar memilih saja. Karena harus memperhatikan banyak hal, agar dapat menunjang efektif, efisien, dan daya tarik dalam belajar siswa. Mudhoffir dalam bukunya Teknologi Instruksional, menyebutkan ada beberapa prinsip pemilihan media adalah sebagai berikut a) Kesesuaian dengan tujuan pengajaran, b) Tingkat kemampuan siswa,  c) Ketersediaan media, d) Biaya, e) Mutu teknik media.[8]
Prinsip pemilihan media pembelajaran menurut Harjanto seperti yang dilingsir oleh website www.m-edukasi.web.id  yaitu: 1) tujuan; 2) keterpaduan; 3) keadaan peserta didik; 4) ketersediaan; 5) mutu teknis; 6) biaya. Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip media pemilihan media pembelajaran adalah :
Ø  Media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran, metode pengajaran yang digunakan, serta karakteristik siswa.
    Mengenali ciri-ciri tiap media pembelajaran
·         Pemilihan media pembelajaran harus berorientasi pada peningkatan efektivitas belajar siswa.
·           Pemilihan media harus mempertimbangkan biaya pengadaan, ketersediaan bahan media, mutu media, dan lingkungan fisik tempat belajar siswa.
Media pembelajaran merupakan alat yang digunakan dalam proses belajara mengajar yang dapat membangkitkan minat dan keinginan, motivasi siswa, dan bahkan dapat membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik. Oleh karena itu, pengembangan media pembelajaran sangatlah penting karena penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi sangatlah penting untuk membentuk keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran, sehingga tujuan pembelajaran bisa  tercapai secara maksimal.
Kegiatan pengembangan media pembelajaran secara garis besar harus melalui tiga langkah besar yaitu kegiatan perencanaan, produksi dan penialian.  Sementara dalam rangka melakukan desain atau rancangan pengembangan program media, Arief Sadiman, dkk, memberikan urutan langkah-langkah yang harus diambil dalam pengembangan program media menjadi 6 (enam) langkah sebagai berikut:
1.       Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa
Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Contoh jika kita mengharapkan siswa dapat melakukan sholat dengan baik dan benar, sementara mereka baru bisa takbir saja, maka perlu dilakukan latihan untuk ruku, sujud, dan seterusnya.
Setelah kita menganalisis kebutuhan siswa, maka kita juga perlu menganalisis karakteristik siswanya, baik menyangkut kemampuan pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Cara mengetahuinya bisa dengan tes atau dengan yang lainnya. Langkah ini dapat disederhanakan dengan cara mengenalisa topik-topik materi ajar yang dipandang sulit dan karenanya memerlukan bantuan media. Pada langkah ini sekaligus pula dapat ditentukan ranah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, termasuk rangsangan indera mana yang diperlukan (audio, visual, gerak atau diam).
contoh melakukan identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa:
Seorang anak berusia 7 tahun diharapkan sudah berprilaku hidup sehat dengan rajin membaca, rajin menabung, tidak boros, namun dalam kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. dengan demikian terjadi kebutuhan bagaimana meningkatkan sikap siswa untuk hidup hemat. Adanya kebutuhan tersebut inilah yang menjadi dasar pijakan dalam membuat media pembelajaran, karena dengan dorongan kebutuhan inilah media dapat berfungsi dengan baik. dan media yang digunakan siswa, haruslah relevan dengan kemampuan  yang dimiliki siswa.
2.      Merumuskan tujuan pembelajaran (Instructional objective) dengan operasional dan khas.Untuk dapat merumuskan tujuan instruksional dengan baik, ada beberapa ketentuan yang harus diingat, yaitu: tujuan pembelajaran harus berorientasi kepada siswa; artinya tujuan itu benar-benar harus menyatakan adanya perilaku siswa yang dapat dilakukan atau diperoleh setelah proses belajar dilakukan.
Sebuah tujuan pembelajaran hendaknya memiliki empat unsur pokok yang dapat kita akronimkan dalam ABCD (Audience, Behavior, Condition, dan Degree). Penjelasan dari masing-masing komponen tersebut sebagai berikut:
A =      Audience adalah menyebutkan sasaran/audien yang dijadikan sasaran pembelajaran
B =      Behavior adalah menyatakan prilaku spesifik yang diharapkan atau yang dapat             dilakukan setelah pembelajaran berlangsung
C =      Condition adalah menyebutkan kondisi yang bagaimana atau dimana sasaran dapat mendemonstrasikan kemampuannya atau keterampilannya
D =      Degree  adalah menyebutkan batasan tingkatan minimal yang diharapkan dapat dicapai.
                                             
3.      Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan
Penyusunan rumusan butir-butir materi adalah dilihat dari sub kemampuan atau      keterampilan yang dijelaskan dalam tujuan khusus pembelajaran, sehingga materi yang    disusun adalah dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dari kegiatan proses          belajar mengajar tersebut. Setelah daftar butir-butir materi dirinci maka langkah            selanjutnya adalah mengurutkannya dari yang sederhana sampai kepada tingkatan yang lebih rumit, dan dari hal-hal yang konkrit kepada yang abstrak.
4.      Mengembangkan alat pengukur keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan seyogyanya dikembangkan terlebih dahulu sebelum naskah program ditulis. Dan alat pengukur ini harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan dari materi-materi pembelajaran yang disajikan. Bentuk alat pengukurnya bisadengan tes, pengamatan, penugasan atau cheklist prilaku. Instrumen tersebut akan digunakan oleh pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media yang dikembangkannya. Misalkan alat pengukurnya tes, maka siswa nanti akan diminta mengerjakan materi tes tersebut. Kemudian dilihat bagaimana hasilnya. Apakah siswa menunjukkan penguasaan materi yang baik atau tidak dari efek media yang digunakannya atau dari materi yang dipelajarinya melalui sajian media. Jika tidak maka dimanakah letak kekurangannya. Dengan demikian, maka siswa dimintai tanggapan tentang media tersebut, baik dari segi kemenarikan maupun efektifitas penyajiannya.
Menulis Naskah Media
Naskah media adalah bentuk penyajian materi pembelajaran melalui media rancangan yang merupakan  penjabaran dari pokok-pokok materi yang telah disusun secara baik seperti yang telah dijelaskan di atas. Supaya materi pembelajaran itu dapat disampaikan       melalui media, maka materi tersebut perlu dituangkan dalam tulisan atau gambar yang   kita sebut naskah program media.
Naskah program media maksudnya adalah sebagai penuntun kita dalam memproduksi       media. Artinya menjadi penuntut kita dalam mengambil gambar dan merekam suara. Karena naskah ini berisi urutan gambar dan grafis yang perlu diambil oleh kamera atau bunyi dan suara yang harus direkam.
Tahapan dalam pembuatan atau penulisan naskah adalah berawal dari adanya ide dan gagasan yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. selanjutnya pengumpulan data dan informasi, penulisan sinopsis dan treatment, penulisan naskah, pengkajian naskah atau revisi naskah, revisi naskah sampai naskah siap diproduksi.
6.      Mengadakan Tes atau Uji Coba dan Revisi
Tes adalah kegiatan untuk menguji atau mengetahui tingkat efektifitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan tujuan yang diharapkan dari program tersebut. Sesuatu program media yang oleh pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program         itu tidak menarik, atau sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang ditujunya, maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.
Tes atau uji coba tersebut dapat dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga melalui tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya dengan menggunakan media yang dikembangkan. Sedangkan revisi adalah kegiatan untuk memperbaiki hal-hal yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan atas   hasil dari tes. Jika semua langkah-langkah tersebut telah dilakukan dan telah dianggap tidak ada lagi yang perlu direvisi, maka langkah selanjutnya adalah media tersebut siap untuk diproduksi. akan tetapi bisa saja terjadi setelah dilakukan produksi ternyata setalah disebarkan atau disajikan ada beberapa kekurangan dari aspek materi atau kualitas sajian medianya (gambar atau suara) maka dalam kasus seperti ini dapat pula dilakukan perbaikan (revisi) terhadap aspek yang dianggap kurang. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kesempurnaan dari media yang dibuat, sehingga para penggunanya akan mudah menerima pesan-pesan yang disampaikan melalui media tersebut. Prosedur tes/uji coba ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam bab yang menjelaskan tentang evaluasi media.

LANGKAH PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN VISUAL
Alat-alat audio-visual baru ada faedahnya kalau yang menggunakannya telah mempunyai keterampilan yang lebih dari memadai dalam penggunaannya. Hal itu menimbulkan kepercayaan pada diri yang menyampaikan. Keempat pokok penting dalam cara menggunakan alat-alat audio visual sebagai berikut:
1. Persiapan
a.       Pelajari tujuan
b.      Persiapkan pelajaran
c.       Pilih dan usahakan alat yang cocok
d.      Berlatih menggunakan alat
e.       Periksa tempat

2. Penyajian
a.       Menyusun kata pendahuluan
b.      Menarik perhatian
c.       Menyatakan tujuan
d.      Menggunakan alat
e.       Mengusahakan penampilan yang bermutu

3. Penerapan
a.       Praktek
b.      Pertanyaan-pertanyaan
c.       Ujian
d.      Diskusi

4. Kelanjutan
Kelanjutan yang dimaksud adalah pengulangan. Pendekatan secara menyeluruh dan berulang-ulang besar sekali pengaruhnya. Oleh karena itu, dimana ada kesempatan, pelajaran atau pesan yang telah diberikan harus diulang-ulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar